Jakarta, 09 February 2026 – Penutupan salah satu toko nasi Padang di Singapura menjadi momen reflektif bagi Duo Anggrek. Lebih dari sekadar kehilangan tempat makan, peristiwa ini dipandang sebagai pengingat pentingnya upaya berkelanjutan dalam melestarikan dan mengembangkan produk kuliner Indonesia di luar negeri.
Bagi Duo Anggrek, nasi Padang bukan hanya makanan, tetapi juga representasi identitas budaya Indonesia yang telah lama diterima oleh masyarakat internasional. Kehadirannya di berbagai negara selama ini menjadi jembatan rasa antara tanah air dan diaspora Indonesia.
“Kuliner adalah bagian dari diplomasi budaya. Nasi Padang membawa cerita tentang Indonesia, tentang tradisi, dan tentang rasa yang tidak dimiliki negara lain,” ungkap Duo Anggrek.
Duo Anggrek menilai bahwa tutupnya usaha kuliner Indonesia di luar negeri harus menjadi perhatian bersama, baik pelaku industri, komunitas diaspora, maupun pemangku kepentingan terkait. Menurut mereka, keberlanjutan usaha kuliner Indonesia membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat, mulai dari akses bahan baku, regulasi, hingga promosi yang konsisten.
Ke depan, Duo Anggrek berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan produk Indonesia, khususnya kuliner khas daerah seperti nasi Padang, agar tetap eksis dan mampu bersaing di pasar global.
“Kami berharap ke depan, produk Indonesia tidak hanya hadir, tapi juga bertahan dan berkembang di luar negeri. Nasi Padang adalah kebanggaan kita bersama dan sudah seharusnya dijaga,” tambah Duo Anggrek.
Melalui pengalaman ini, Duo Anggrek juga mengajak generasi muda dan pelaku usaha untuk melihat kuliner Indonesia sebagai aset budaya dan ekonomi, yang memiliki potensi besar untuk memperkuat citra Indonesia di mata dunia.